Silahkan Input Ratting Terlebih Dahulu

×

Anda sudah Mendapatkan Voucher sebelumnya

×
Home / Sindrom Hipermobilitas Sendi

Sindrom Hipermobilitas Sendi

Selasa, 27/11/2018 | 14:53 WIB

Penyakit S

Share this article

Sindrom Hipermobilitas Sendi

Definisi

Sindrom hipermobilitas sendi adalah kondisi yang memiliki sendi yang mudah bergerak melampaui kisaran normal yang diharapkan untuk sendi tertentu. Akibatnya, sendi-sendi jadi mudah bergerak, tapi kurang memiliki kekuatan, dan biasanya baru tampak jelas saat si kecil belajar jalan. Sindrom hipermobilitas sendi dianggap sebagai kondisi jinak. 

Penyebab

Cenderung diwariskan pada gen spesifik yang diwariskan oleh orang tua kepada anak-anak mereka. Salah satu penyebab utama dianggap perubahan genetik ditentukan untuk jenis protein yang disebut kolagen. Kolagen ditemukan di seluruh tubuh misalnya, pada kulit dan ligamen (pita kuat jaringan ikat yang menghubungkan dua tulang bersama pada sendi). Jika kolagen lebih lemah dari seharusnya, jaringan di dalam tubuh akan rapuh, yang dapat membuat ligamen dan sendi longgar dan melar. Akibatnya, persendian dapat meluas lebih jauh dari biasanya.

Faktor Risiko

Hipermobilitas sendi juga merupakan fitur dari kondisi medis yang langka, diwariskan, lebih signifikan yang disebut sindrom Ehlers-Danlos (EDS), yang ditandai oleh kelemahan dari jaringan ikat tubuh. Hipermobilitas sendi umumnya terlihat pada orang dengan sindrom Down dan pada orang dengan sindrom Marfan.

Tanda dan Gejala

Tanda-tanda sindrom hipermobilitas sendi yaitu kemampuan untuk meletakkan telapak tangan di lantai dengan lutut sepenuhnya memanjang, hiperekstensi lutut atau siku melebihi 10 derajat, dan kemampuan untuk menyentuh ibu jari ke lengan bawah. dan sedangkan gejala yang di timbulkan adalah rasa nyeri pada lutut, jari, pinggul, dan siku. Ada insiden yang lebih tinggi dari dislokasi sendi dan keseleo sendi yang terlibat. Skoliosis (kelengkungan tulang belakang) terjadi lebih sering pada orang dengan sendi hipermobile dan dapat menyebabkan nyeri punggung.

Diagnosis

Biasanya yang dilakukan untuk mendiagnosis sindrom hipermobilitas sendi yaitu pemeriksaan sendi yang terkena dampak dan mencatat bahwa mereka dengan mudah bergerak melampaui kisaran normal yang diharapkan. Misalnya, bagian tengah jari dapat menekuk ke belakang lebih dari biasanya. Tidak ada tes darah untuk sindrom hipermobilitas.

Pengobatan 

Pengobatan disesuaikan untuk setiap individu berdasarkan manifestasi khusus mereka. Nyeri sendi dapat dikurangi dengan obat untuk nyeri atau peradangan. Latihan kebugaran fisik yang tepat harus dirancang untuk menghindari cedera pada sendi. Home remedies termasuk latihan di rumah dan acetaminophen (Tylenol), sesuai kebutuhan. Kadang-kadang terapi fisik dapat membantu rehabilitasi area yang cedera dan dapat sangat membantu untuk mencegah reinjury.

Daftar Pustaka

  1. Benign Hypermobility Syndrome http://medind.nic.in/jaa/t05/i4/jaat05i4p150g.pdf
  2. Celletti, C., dkk. 2104. Joint hypermobility syndrome/Ehlers–Danlos syndrome hypermobility type: constructing a rehabilitative approach. Physical Medicine & Rehabilitation Division, Umberto I Hospital, Sapienza University, Rome, Italy
  3. Castori, M., 2013. Joint hypermobility syndrome (a.k.a. Ehlers-Danlos Syndrome, Hypermobility Type): an updated critique. Division of Medical Genetics, Department of Molecular Medicine, Sapienza University, San Camillo-Forlanini Hospital, Rome, Italy. 
  4. Kumar,, B., 2017. dkk. Joint Hypermobility Syndrome: Recognizing a Commonly Overlooked Cause of Chronic Pain. Division of Immunology, University of Iowa, Iowa City
  5. Scheper, M. C., dkk. 2015. Chronic pain in hypermobility syndrome and Ehlers–Danlos syndrome (hypermobility type): it is a challenge. School of Physiotherapy, Amsterdam University of Applied Sciences, Amsterdam

POST A COMMENT

0 Comments