Silahkan Input Ratting Terlebih Dahulu

×

Anda sudah Mendapatkan Voucher sebelumnya

×
Home / Epiglottitis : Penyebab, Gejala dan Pencegahan

Epiglottitis : Penyebab, Gejala dan Pencegahan

Senin, 5/11/2018 | 14:11 WIB

Penyakit E

Share this article

Epiglottitis

Definisi

Epiglotitis merupakan suatu penyakit infeksi yang dapat mengancam jiwa dan bisa menyebabkan pembengkakan mendalam pada saluran udara bagian atas yang mengarah ke asfiksia dan penahanan pernapasan. Epiglottitis secara historis adalah kondisi yang lebih umum pada anak-anak, tetapi itu menjadi lebih sering pada orang dewasa. Ini memerlukan diagnosis dan pengobatan yang cepat pada siapa pun, tetapi terutama pada anak-anak, yang lebih rentan terhadap komplikasi pernapasan.

Penyebab

  Paling umum terjadinya epiglottitis disebabkan oleh infeksi bakteri yang masuk ke dalam tubuh pada saat menghirupnya. Biasanya bakteri yang dapat menyebabkan seseorang terkena epiglottitis adalah haemophilus influenzae tipe b, juga dikenal sebagai Hib. Hib merupakan suatu jenis bakteri yang menular dengan cara menghirup penyebaran kuman ketika orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau meniup hidungnya. Namun, bukan jenis bakteri haemophilus influenzae tipe b saja yang dapat menyebabkan terjadinya epiglottitis, bakteri streptococcus A, B, atau C dan Streptococcus pneumoniae  juga dapat menyebabkan seseorang terkena epiglottitis. Streptococcus A merupakan salah satu jenis bakteri yang dapat menyebabkan terjadinya radang tenggorokan. Streptococcus pneumoniae adalah penyebab umum pneumonia bakteri.

Adapun beberapa penyebab lainnya, diantaranya :

  • Merokok kokain
  • Menghirup bahan kimia dan luka bakar kimia
  • Menelan benda asing
  • Membakar tenggorokan dari uap atau sumber panas lainnya
  • Mengalami cedera tenggorokan akibat trauma, seperti luka tikam atau tembakan

Faktor risiko

Beberapa faktor-faktor tertentu yang dapat meningkatkan risiko epiglottitis, seperti :

  • Epiglotis lebih banyak menyerang pria daripada wanita
  • Sistem kekebalan tubuh melemah
  • Tidak memiliki vaksin yang tepat

Gejala

  Biasanya gejala epiglottitis lebih rentan terhadap anak-anak dibandingkan orang dewasa. Hala ini dikarenakan anak-anak dapat mengembangkan epiglottitis dalam hitungan jam. Sedangkan pada orang dewasa, sering berkembang lebih lambat, selama beberapa hari. Gejala-gejala epiglottitis yang umum pada anak-anak termasuk :

  • Demam tinggi
  • Mengurangi gejala saat condong ke depan atau duduk tegak
  • Sakit tenggorokan
  • Suara serak
  • Meneteskan air liur
  • Kesulitan menelan
  • Menelan yang menyakitkan
  • Kegelisahan
  • Bernapas melalui mulut mereka

Gejala umum pada orang dewasa meliputi :

  • Demam
  • Kesulitan bernafas
  • Kesulitan menelan
  • Suara serak atau teredam
  • Pernapasan yang keras dan berisik
  • Sakit tenggorokan yang parah
  • Ketidakmampuan untuk menarik napas

Komplikasi

Epiglottitis dapat menyebabkan berbagai komplikasi, termasuk:

  • Kegagalan pernafasan epiglottitis adalah "topi" kecil yang bergerak di atas laring yang mencegah makanan dan minuman memasuki trakea. Tetapi jika epiglottitis membengkak, baik sebagai akibat infeksi atau cedera, saluran udara berkurang dan dapat sepenuhnya diblokir dan dapat menyebabkan kegagalan pernafasan.
  • Perbanyakan infeksi, terkadang bakteri yang menyebabkan epiglottitis ini bisa  menyebabkan infeksi di bagian tubuh lainnya, seperti pneumonia, meningitis, atau infeksi darah (septikemia).

Diagnosis

  Ada beberapa langkah yang dilakukan oleh dokter untuk mendiagnosis epiglottitis, yaitu pengamatan fisik dan riwayat medis. Selain itu, ada pemeriksaan pendukung lainnya yang dilakukan, antara lain :

  • Sinar-X tenggorokan dan dada untuk melihat tingkat keparahan peradangan dan infeksi.
  • Tenggorokan dan kultur darah untuk menentukan penyebab infeksi, seperti bakteri atau virus.
  • Pemeriksaan tenggorokan menggunakan tabung serat optic.

Pengobatan

  Perawatan pertama dokter biasanya melibatkan pemantauan kadar oksigen dengan alat pulse oximetry dan melindungi saluran napas. Jika kadar oksigen darah menjadi terlalu rendah, maka perlu oksigen tambahan melalui tabung. Dokter mungkin juga memberi suatu perawatan lainnya, di antaranya :

  • Cairan intravena untuk nutrisi dan hidrasi sampai dapat menelan lagi.
  • Antibiotik untuk mengobati infeksi bakteri.
  • Obat anti-inflamasi, seperti kortikosteroid, untuk mengurangi pembengkakan di tenggorokan.
  • Mungkin juga memerlukan prosedur pembedahan kecil yang dikenal sebagai tracheostomy, yang hanya digunakan untuk kasus-kasus berat. Selama prosedur ini, dokter memasukkan jarum ke trakea. Ini memungkinkan pertukaran oksigen dan mencegah kegagalan pernafasan.

Pencegahan

  Ada beberapa pencegahan yang harus dilakukan untuk membantu mengurangi risiko terkena epiglottitis, antara lain :

  • Pada usia anak-anak harus menerima vaksin Hib mulai dari usia 2 bulan. Biasanya, anak-anak menerima dosis ketika mereka berusia 2 bulan, 4 bulan, dan 6 bulan. Anak Anda kemungkinan juga akan menerima booster antara 12 dan 15 bulan.
  • Cuci tangan dengan menggunakan pembersih alkohol untuk mencegah penyebaran kuman. Hindari minum dari cangkir yang sama dengan orang lain dan berbagi makanan atau peralata, hal ini dapat menyebabkan terjadinya penularan. 

Daftar Pustaka :

  1. Acute epiglottitis: Trends, diagnosis and management
  2. https://www.ncbi.nlm.nih.gov
  3. Charles, R., dkk. 2013. Acute epiglottitis. Anaesthetic Department, Dewsbury District Hospital, Dewsbury WF13 4HS, UK
  4. Chung, C., 2001. Case and literature review: adult acute epiglottitis – rising incidence or increasing awareness?. North District Hospital, Accident &Emergency Department, 9 Po Kin Road, Sheung Shui, New Territories, Hong Kong
  5. Epiglotitis
  6. https://www.mayoclinic.org
  7. Grace, M., dkk. 2016. Adult Acute Epiglottitis: An Eight - Year Experience in a Philippine Tertiary Government Hospital. Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery East Avenue Medical Center
  8. Wick, F., dkk. 2002. Acute epiglottitis in adults. Medizinische Klinik, Kantonsspital Winterthur

POST A COMMENT

0 Comments