Silahkan Input Ratting Terlebih Dahulu

×

Anda sudah Mendapatkan Voucher sebelumnya

×
Home / Xerophthalmia

Xerophthalmia

Jumat, 14/09/2018 | 14:48 WIB

General

Share this article

Xerophthalmia

Definisi

Xerophthalmia merupakan suatu jenis penyakit mata progresif yang disebabkan oleh kekurangan vitamin A. Kekurangan atau vitamin A dapat mengeringkan saluran air mata. Xerophthalmia dapat berkembang menjadi kebutaan malam atau kerusakan yang lebih serius pada kornea mata dan lapisan luar mata. Kerusakan yang di timbulkan bisa berupa bintik-bintik putih di mata dan bisul di kornea mata.

Penyebab

Xerophthalmia disebabkan oleh kekurangan vitamin A. Vitamin A bagi tubuh sangat penting untuk penglihatan karena merupakan unsur protein yang menyerap cahaya di reseptor di retina mata. Selain penting bagi kesehatan mata, vitamin A juga penting untuk fungsi dan pemeliharaan jantung, paru-paru, ginjal, dan organ lainnya.

Gejala

Gejala xerophthalmia semakin memburuk jika kekurangan vitamin A. Jika memiliki kondisi ini, lapisan tipis kelopak mata dan bola mata yang disebut konjungtiva, mengering, mengental, dan mulai berkerut. Kering dan kerutan menyebabkan berbagai gejala, di antaranya :

  1. Kebutaan malam adalah suatu gejala ketidakmampuan untuk melihat dalam cahaya redup. Kebutaan di malam hari sebagai pengukur kekurangan vitamin A dalam suatu populasi.
  2. Saat xerophthalmia berlangsung, lesi terbentuk pada kornea. Deposito jaringan ini disebut bintik-bintik bitot. Pada tahap terakhir dari kondisi ini, sebagian atau seluruh kornea akan mencair dan akhirnya mengarah pada kebutaan.

Risiko

Bayi dan anak-anak berisiko lebih besar. Oleh sebab itu pada usia bayi dan anak-anak sangat membutuhkan banyak vitamin A untuk tumbuh. Apabila kekurangan vitamin A akan mempengaruhi untuk kesehatan tubuh dan akan mengalami beberapa risiko penyakit seperti diare, campak, dan infeksi saluran pernafasan.

Berikut ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk menyerap vitamin A :

  1. Alkoholisme
  2. Cystic fibrosis
  3. Penyakit celiac yang membatasi penyerapan nutrisi
  4. Penyakit hati, seperti sirosis
  5. Diare kronis

Diagnosis  

Diagnosis xerophthalmia biasanya diawali dengan mengetahui riwayat penyakit, termasuk kebiasaan dan pola makan yang dijalani. Kemudian  dokter dapat melakukan pemeriksaan mata, termasuk menguji adaptasi penglihatan terhadap cahaya.

Pemeriksaan mata dapat diikuti dengan tes darah yang bertujuan mengetahui kadar vitamin A dalam darah. Pemeriksaan tersebut, dapat dipastikan apakah penderita mengalami defisiensi vitamin A atau memiliki kondisi lainnya. Adapun yang dapat menguatkan diagnosis xerophthalmia, dengan melakukan pemeriksaan foto Rontgen tulang untuk melihat pertumbuhan tulang yang mengindikasikan adanya kekurangan vitamin A.

Pengobatan

Suplementasi vitamin A adalah pengobatan segera untuk xerophthalmia. Vitamin A dapat dilakukan melalui mulut atau disuntikkan. Dosis tergantung pada usia dan kondisi kesehatan penderita secara umum. Dalam kasus yang lebih maju di mana kornea rusak, penderita mungkin menerima antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder. Suplementasi vitamin A adalah pengobatan segera untuk xerophthalmia. Vitamin A dapat dilakukan melalui mulut atau disuntikkan.

Langkah-langkah yang dapat mempercepat penyembuhan xerophthalmia, antara lain :

  1. Menghindari kondisi ruangan yang kering.
  2. Menggunakan alat pembersih atau pelembab udara.
  3. Memakai kaca mata pelindung.
  4. Menggunakan salep, gel, atau air mata buatan.
  5. Mengistirahatkan mata setelah melakukan kegiatan yang memerlukan ketajaman penglihatan dalam waktu lama.

Daftar Pustaka :

  1. Feroze, K. B., dkk. Xerophthalmia. Last Update: Aug 05, 2018. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK431094/
  2. Karyadi, D., dkk. 1972. Pencegahan  Penyakit Kekurangan Vitamin A Dengan Pemberian “Oral Massive Dose Vitamin A Emulsion” Dua Kali Setahun. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta
  3. Singh, V. dkk. 2004. Vitamin A deficiency and xerophthalmia among school-aged children in Southeastern Asia.
  4. Center for Human Nutrition, Department of International Health, Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, Baltimore,MD, USA
  5. Wodaye, A. Y., dkk. 2016. Prevalence of xerophthalmia and associated factors among school age children of Fadis, Oromia regional state, Eastern Ethiopia: School based cross-sectional study.
  6. Department of Environmental Health, College of Health and Medical Science, Haramaya University, Ethiopia

POST A COMMENT

0 Comments