Silahkan Input Ratting Terlebih Dahulu

×

Anda sudah Mendapatkan Voucher sebelumnya

×
Home / Infeksi Kantung Air Mata

Infeksi Kantung Air Mata

Senin, 27/08/2018 | 14:22 WIB

Penyakit M

Share this article

Infeksi Kantung Air Mata

Dalam dunia medis, infeksi kantung air mata dikenal sebagai dakriosistitis. Kantung air mata merupakan bagian atas dari saluran yang terletak di ujung mata bagian dalam. Kantung ini terhubung dengan saluran hidung dan berfungsi untuk mengalirkan air mata. Air mata ini sendiri berguna untuk membersihkan kotoran yang menempel pada permukaan mata serta menjaga kelembaban mata.

Penyebab dan Faktor Resiko

Ketika kantung air mata tersumbat, air mata yang kotor tidak dapat mengalir keluar untuk ditukar dengan air mata baru. Hal ini menyebabkan penumpukkan bakteri penyebab infeksi pada mata.

  Infeksi kantung air mata akut terjadi secara tiba-tiba, sementara infeksi air mata kronis terjadi dalam jangka waktu yang lama.

  Beberapa hal yang dapat menyebabkan penyumbatan pada kantung air mata antara lain:

  • Cedera pada bagian mata atau hidung, seperti patahnya tulang hidung
  • Polip hidung
  • Pembengkakan rongga sinus hidung
  • Operasi pada saluran hidung
  • Kanker
  • Benda asing yang masuk ke dalam kantung air mata
  • Wanita lebih beresiko karena saluran kantung air mata yang lebih tipis daripada laki-laki.
  • Usia yang lebih tua juga meningkatkan resiko infeksi kantung air mata.

Bayi juga dapat dilahirkan dengan kantung air mata tersumbat. Pada bayi, penyakit ini harus segera ditangani karena infeksi ini dapat menyebabkan abses otak, meningitis, sepsis atau bahkan kematian.

Tanda dan Gejala

  Infeksi kantung air mata, terutama yang akut, akan menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut:

  • Ujung mata bagian dalam membengkak dan memerah
  • Terasa sakit
  • Mata menjadi merah dan berair
  • Kotoran yang terlihat seperti nanah atau lendir mengumpul di ujung mata bagian dalam
  • Demam

Gejala untuk infeksi kantung air mata kronik biasanya lebih ringan. Mata berair dan lebih banyak kotoran, tetapi pembengkakan jauh lebih kecil atau tidak tampak.

Diagnosa

  Diagnosa dapat dilakukan melalui kunjungan ke dokter spesialis mata. Pertama akan dilakukan pemeriksaan fisik mengenai gejala-gejala yang dialami. Penderita yang demam atau penglihatannya terganggu dapat memerlukan tes darah. Penderita infeksi kronis dapat menjalani tes antibodi dalam darah. Terkadang, CT Scan dapat digunakan untuk melihat penyebab tersumbatnya kantung air mata, terutama bila dicuragai terdapatnya keganasan.

Penanganan

  Penanganan umum untuk penderita infeksi kantung air mata adalah antibiotik. Antibiotik ini digunakan untuk membunuh bakteri penyebab infeksi. Pasien umumnya diberi antibiotik yang diminum, tetapi, apabila infeksi sudah parah, pasien mungkin akan menerima antibiotik melalui infus IV. Penderita juga mungkin akan menerima obat tetes mata yang mengandung obat seperti antibiotik.

  Cara yang dapat dilakukan oleh penderita sendiri yaitu melakukan kompres. Kompres dibasahi dengan air hangat, lalu diletakkan pada mata selama beberapa menit. Untuk mengurangi kotoran atau lendir yang menumpuk, tekan bagian ujung mata dalam secara berhati-hati hingga kotoran keluar. Kemudian, kompres lagi bagian mata dengan kompres yang bersih. Ulangi kompres ini beberapa kali dalam sehari.

  Apabila penyumbatan kantung air mata tidak dapat pulih dengan sendirinya, penderita akan memerlukan operasi. Operasi ini bertujuan untuk membuka jalur baru sebagai saluran pembawa air mata menuju hidung. Pelebaran kantung air mata dilakukan untuk mencegah pengulangan infeksi di masa depan.

  Dengan pengobatan yang tepat, penderita infeksi kantung air mata akan dapat pulih dengan sepenuhnya.

Daftar Pustaka :

  1. Stephanie Watson, Alana Biggers. Dacryocystitis. In: Healthline.
  2. Alsuhaibani A, Al Barqi M, Vargason CW, Burkat CN, Goel S. Dacryocystitis. In: American Academy of Ophthalmology (AAO).
  3. Fletcher J, Choi J. Dacryocystitis: Causes, symptoms, and treatment. In: Medical News Today.
  4. Taylor RS, Ashurst JV. Dacryocystitis. In: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK470565/.

POST A COMMENT

0 Comments